Rabu, 30 September 2009

PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN DAN PERLUNYA AKHLAK TASAWUF

A. PENGERTIAN MASYARAKAT MODERN
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan masyarakat sebagai pergaulan hidup manusia ( himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu) sedangkan modern di artikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Dengan demikian secara harfiah masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
Masyarakat modern selanjutnya sering disebutkan sebagai lawan dari masyarakat tradisional. Deliar Noer misalnya menyebutkan ciri-ciri modern sebagai berikut:
Bersifat Rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran daripada pendapat emosi. Sebelum melakukan pekerjaan selalu dipertimbangkan lebih dahulu untuk ruginya, dan pekerjaan tersebut secara logika dipandang menguntungkan.
Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan yang bersifat sesaat ( instan), tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh.
Menghargai waktu, yaitu selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya
Bersikap terbuka, yakni mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan dari manapun datangnya.
Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.

B. PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN

Desintegrasi Ilmu Pengetahuan

Kehidupan modern antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan. Masing-msing ilmu pengetahuan memiliki paradigma(cara pandang)nya sendiri dalam memecahkan maslah yang dihadapi. Jika seseorang menghadapi maslah lalu ia pergi kepada kaum teolog, ilmuwan, politisi, sosiologi, ahli biologi, psikologi, etnologi dan ekonomi misalnya, ia akan memberikan jawaban yang berbeda-beda dan terkadang saling bertolak belakang. Hal ini pada akhirnya dapan membingungkan masyarakat.
Keadaan berbagai ilmu pengetahuan yang saling bertolak belakang itu diakui oleh Max Scheler sebagai dikutip Komaruddin Hidayat. Menurutnya bahwa antara satu disiplin ilmu atau filsafat dan lainya terdapat kerenggangan, bahkan tidak tahu menahu mengingatkan ungkapan Pragmented knowledge yang dikemukakan Nashr merupakan pangkal terjadinya kekeringan spiritual, akibat pintu masuknya tersumbat. Dengan menyempitnya pintu masuk bagi persepsi dan konsepsi spiritual, maka manusia modern semakin berada pada garis tepi, sehinggatidak lagi memiiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber Ilahhi.
Terjadinya kepingan-kepingan ilmu yang mengarah pada spesialisasi, sehingga jika semuanya berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, yang terjadi adalah kian jauhnya manusia dari pengetahuan ( kearifan ) akan kesatuan alam. Lebih dari itu, penggalian disiplin diatas bisa jadi malah mendatangkan benturan-benturan antara yang satu dan yang lainnya. Perkembangan ini diisyaratkan oleh Nashr sebagai manusia modern yang memang tangannya dalam kobaran api tetapi dirinya sendiri yang menyalakannya ketika ia mengijinkan dirinya untuk melupakan siapa dia sesungguhnya.

Kepribadian yang terpecah ( Split Personiality )

Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak itu, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah (Split Personality). Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu yang eksak dan kering. Akibatnya kini tengah menggelinding proses hilangnya kekayaan rohaniah, karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif (ilmu yang hanya mengandalkan fakta-fakta empirik, obyektif, rasional dan terbatas) dan ilmu-ilmu sosial.
Kita sama sekali bukan meremehkan atau tidak menghargai jasa yang diberikan ilmu pengetahuan eksak dan sosial, tetapi yang kita inginkan agar ilmu-ilmu tersebut diintegrasikan satu dan lainnya melalui tali pengikat, yaitu ajaran agama dari Tuhan, sehingga seluruh ilmu itu diarahkan pada tujuan kemuliaan manusia, mengabdikan dirinya pada Tuhan, berahlak mulia.

Penyalahgunaan Iptek

Sebagai akibat dari terlepasnya Ilmu Pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual, maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya sebagaimana disebutkan diatas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan dengan untuk tujuan penjajahan satu bangsa atau bangsa lain, subversi dan lain sebagainya. Kemampuan dibidang rekayasa genetika diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia. Kecanggihan dibidang teknologi komunikasi telah digunakan untuk menggalang kekuatan yang menghancurkan moral umat dan sebagainya.

Pendangkalan Iman

Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan tersebut diatas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan dangkal imannya. Ia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh Wahyu, bahkan informasi yang dibawa oleh Wahyu itu mejadi bahan tertawaan dan dianggap sebagai tidak ilmiah dan kampungan.

Pola Hubungan Materialistik

Semangat persaudaraan dan rasa saling gotong royong yang di dasarkan atas panggilan iman sudah tidak nampak lagi, karena imannya memang sudah dangkal. Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat materil. Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya ia menempatkan pertimbangan material di tas pertimbangan akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.

Menghalalkan Segala Cara

Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik sebagaimana disebutkan diatas , maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Jika hal ini terjadi maka terjadilah kerusakan akhlak dalam segala bidang, baik ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya.

Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya

Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk memperturutkan hawa napsu dan segala daya dan cara telah ditempuhnya. Namun ada suatu hal dimana ia sudah tua renta, fisiknya sudah tidak berdaya, tenaganya sudah tidak mendukung, dan berbagai kegiatan sudah tidak dapat ia lakukan. Fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak berguna lagi, karena fisik dan mentalnya sudah tidak memerlukan lagi. Manusia yang demikian ini merasa kehilangan harga diri dan masa depannya, kemana ia harus berjalan, ia tidak tahu. Mereka perlu bantuan dari kekuatan yang berada di luar dirinya, yaitu bantuan dari Allah SWT.

C. PERLUNYA PENGEMBANGAN AKHLAK TASAWUF

Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mangatasi masalah tersebut, dan salah satu cara yang hampirdisepakati para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan yang berakhlak dan bertasawuf. Salah satu tokoh yang begitu sungguh-sungguh memperjuangkan akhlak tasawuf bagi mengatasi masalah tersebut adalah Hussein Nashr. Menurutnya paham sufisme ini mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat ( termasuk masyarakat Barat), karena mereka mulai merasakan kekeringan batin. Mereka mulai mencari-cari dimana sufisme yang dapat menjawab sejumlah masalah tersebut diatas.
Dalam situasi kebingungan semacam itu, sementara bagi mereka selama berabad-abad Islam dipandangnya dari isinya yang legalistik formalistis-----tidak memiliki esoteris(batiniah)-------maka kini saatnya dimensi batiniah Islam harus diperkenalkan sebagai alternatif, bagi masyarakat barat, masih sangat asing bahwa Islam memiliki kekayaan rohani yang sesungguhnya amat mereka rindukan.
Namun demikian penggunaan tasawuf mengatasi sejumlah masalah moral sebagaimana tersebut diatas menghendaki adanya interprestasi baru terhadap term-term tasawuf yang selama ini dipandang sebagai menyebabkan melemahnya daya juang di kalangan Ummat Islam.
Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti, sikap batin dan kehalusan budi pekerti yang tajam ini menyebabkan ia akan selalu mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang dihadapi. Dengan cara demikian, ia akan terhindar dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela menurut agama.
Dalam pada itu tema tentang situasi kemanusiaan di zaman modern ini menjadi penting dibicarakan, mengingat dewasa ini manusia menghadapi bermacam-macam persoalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Kadang-kadang kita merasa bahwa situasi yang penuh problematika di dunia mdern ini justru disebabkan oleh perkembanganpemikiran manusia itu sendiri. Dibalik kemajuan ilmu dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia untuk menyelamatkannya perlu tasawuf yang wujud konkretnya dalam akhlak yang mulia.
Sekarang dunia nampaknya sepakat bahwa sains harus dilandasi etika, tetapi karena etikapun akarnya pemikiran filsafat pula, yaitu pemikiran yang mengandung keunggulan dan kelemahan, maka masalah etika pun masih mengadung masalah. Untuk itu yang diperlukan adalah akhlak yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Itulah sumbangan positif yang dapat digali dan dikembangkan dari ajaran tasawuf akhlak. Untuk itu dalam mengatasi problematik kehidupan masyarakat modern saat ini. Akhlak tasawuf harus dijadikan salah satu alternatif terpenting. Ajaran Akhlak tasawuf perlu disuntikan kedalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu Pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain sebagainya perlu dilandasi ajaran akhlak tasawuf. Inilah harapan saya...............................................................................................................!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Chat dengan Saya